Sejarah

Tahun 1961 – 1963, Penunjukan kelompok hutan Lauwa ± 800 ha dan kelompok hutan Komara ± 15.624 ha sebagai kawasan hutan dengan fungsi sebagai hutan lindung.

Tahun 1976, Surat Pendahuluan Ditjen Kehutanan Dirjen PPA mengenai survey oreintasi daripada cadangan Suaka Alam atau Hutan Wisata Propinsi Sulawesi Selatan.

Tahun 1981, Pengusulan penunjukan kelompok hutan Lauwa dan Komara seluas ± 5.500 ha dan areal hutan di antara kelompok hutan Lauwa dan Koara seluas ± 500 ha (tanah negara bebas) sebagai Suaka Margasatwa.

Tahun 1982, Penunjukan status Hutan Lindung Komara seluas ± 8.000 ha.

Tahun 1987, Perubahan status Hutan Lindung Komara seluas ± 8.000 yang terletak di Kabupaten Takalar Sulsel menjadi Taman Buru Komara seluas ± 4.610 ha dan Suaka Margasatwa Komara seluas ± 3.390 ha.

Tahun 1997, Penetapan fungsi kawasan konservasi Taman Buru Ko’mara seluas ± 4.152,50 hektar

Dasar Hukum, Luas dan Letak

Kawasan ini ditetapkan berdasarkan SK. Menhut No. 237/Kpts-II/1997 tanggal 9 Mei 1997 seluas 4.152,5 ha.

Secara geografis terletak pada Lintang: 50 3’ 19” – 50 28’ 18” LS dan Bujur: 1190 22’ – 1190 39’ BT.

Sedangkan secara admnistratif terletak di Desa Cakura, Desa Komara, Desa Baroanging, Desa Papaluang, Desa Barana (Kab. Takalar dan Kab. Jeneponto). Dengan batasnya adalah sebagai berikut: Sebelah Utara: Desa Komara Kec. Polobangkeng Takalar; Sebelah Timur: Desa Papaluang Polobangkang Selatan Takalar; Sebelah Selatan: Desa Baroanging dan Desa Barana Kec. Balangka barat Kabupaten Jeneponto; Sebelah Barat: Desa Cakura Polobangkang Selatan Takalar.

Kondisi fisik

Topografi: Umumnya landai berbukit sampai bergunung yang dapat dijumpai pada bagian utara dan barat dengan kelerengan 10 – 450. Sedangkan daerah bergunung atau kelerengan curam di bagian selatan dan timur. Ketinggian antara 50 – 686 mdpl

Geologi: formasi batuan vulkanik, jenis tanah litosol coklat kemerahan dan alluvial coklat kehitaman. Jenis tanah litosol dapat dijumpai pada daerah yang terbuka vegetasinya, sedangkan jenis alluvial umumnya di vegetasi tertutup.

Tanah: tekstur tanah relative halus berpasir dan bercampur debu

Iklim dan cuaca: Menurut klasifikasi Schmidt – Ferguson termasuk tipe iklim C; Curah hujan rata-rata 229,74 mm/th; Kelembaban 60 – 80%; Temperature 29 – 33° C.

Hidrologi: Keadaan sumber air pada kawasan ini dijumpai aliran air permukaan dari beberapa anak Sungai Pamukulu dan Sungai Marinding. Aliran air kedua sungai ini menyatu pada Sungai Pappo menuju kota Takalar dan bermuara di pantai Galesong Selatan.

Potensi kawasan

Potensi ekosistem: Hutan hujan tropis dataran rendah.

Potensi flora: Jati, Lento-lento, Bitti, Kemiri, Beringin. Keadaan penutupan hutan vegetasi sekitar 70% yang terdiri dari 40% tanaman hutan dan 30% perdu dan rerumputan. Sedang areal sisanya adalah hamparan batuan vulkanik kehitamanan.

Potensi fauna: Taman buru komara memiliki satwa buru adalah rusa (Cervus timorensis) yang dilindungi oleh undang-undang, sesuai dengan informasi dari masyarkat sekitar bahwa pada musim kemarau masih sering ditemui adanya beberapa ekor rusa (2 – 5 ekor) di semak belukar, padang rumput dan pesisir anak sungai untuk mencari makan dan minum. Jenis satwa lain adalah kera hitam (Macaca maura), rangkong (Penelopides exharnatus), biawak (Varanus salvator), ayam hutan (Gallus gallus) dll.

Aksesibilitas

Jarak dari kota Makassar (Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan) ke SM. Ko’mara adalah ± 60 km. Kondisi jalan relatif baik dan waktu yang dibutuhkan hanya ± 1 jam. Rute perjalanan dimulai dari Makassar – Gowa – Palleko – Desa Barugaya.